Tangjungrimba.com, BOYOLALI — Bupati Boyolali, Agus Irawan, menyampaikan wilayah Boyolali mempunyai potensi luar biasa dari desa-desanya hingga berbagai umbul yang bisa dikembangkan menjadi objek wisata.
Agus mengatakan Kabupaten Boyolali menjadi daerah dengan wilayah terluas terutama di wilayah lereng Merapi dan Merbabu. Ia mengaku memiliki perhatian khusus pengembangan wisata untuk Kecamatan Selo dan Kecamatan Ngemplak khususnya seputar Waduk Cengklik.
“Selo menjadi daerah yang luar biasa sekali dengan daya tarik hawa dinginnya. Namun, yang menjadi masalah adalah kebutuhan air bersihnya,” kata dia dalam forum Rembuk Jateng yang digelar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah di Pendapa Alun-alun Kidul Boyolali, Selasa (2/6/2026).
Dalam kegiatan yang dihadiri bupati-wakil bupati serta wali kota-wakil wali kota se-Soloraya itu, Agus mengatakan pelaku usaha Selo ketika hendak mencari air bersih harus turun gunung membeli air.
Agus juga mengatakan untuk wisata Waduk Cengklik menjadi salah satu satelit pariwisata seusai masyarakat berkunjung ke wilayah Solo dan sekitarnya. Untuk mengelola Waduk Cengklik, Pemkab Boyolali juga telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo.
“Berkaitan pengembangan di Waduk Cengklik, sebenarnya kami sudah berusaha berkoordinasi dengan BBWS [Bengawan Solo]. Namun, untuk perizinannya belum bisa selesai,” kata dia.
Pengembangan Waduk Cengklik
Ia menjelaskan wisata di Waduk Cengklik sangat potensial untuk didatangi wisatawan. Terlebih, baik Bandara Adi Soemarmo hingga Asrama Haji Donohudan terletak di Ngemplak dan dekat dengan Waduk Cengklik. “Mohon dukungannya untuk perizinan agar kami dapat mengelola dan mengembangkan perizinan di Waduk Cengklik,” kata dia.
Selanjutnya, ia mengatakan terdapat gangguan di bidang pertanian terdapat serangan monyet ekor panjang ke ladang warga. Ia mengatakan Pemkab Boyolali sudah mengajukan penambahan kuota tangkap kera.
“Kera itu sejarahnya saat erupsi 2010-2011, kera turun lalu berkembang biak di bawah. Karena banyak makanan di situ, mereka tidak mau kembali ke atas. Ada satu kecamatan, satu desa itu hampir lebih banyak dibanding penduduknya,” kata dia.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan soal kera, ia mengatakan akan bersurat ke Kementerian Kehutanan agar mendapatkan kuota tangkap. Ia mengatakan kera yang turun sejak erupsi Gunung Merapi turun pada 2010, sebagian beranak pinak di sekitar permukiman warga.
“Kuota tangkap dan pengamanan, karena mengamankan kera tidak boleh dibunuh. Jadi nanti pawangnya kami minta tambah karena seluruh kabupaten/kota, dari seputaran Merbabu kena. Ada Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, hampir semua,” kata dia.

Leave a Reply