Tangjungrimba.com, SEMARANG — Antusiasme masyarakat Jawa Tengah (Jateng) menyambut gelaran Piala Dunia 2026 tercermin dari tingginya jumlah lokasi nonton bareng (nobar) yang telah mengajukan lisensi resmi. Hingga Jumat (12/6/2026) malam, jumlah titik nobar di Jateng nyaris menyentuh angka 500 setelah seluruh proses verifikasi selesai.
Ajang sepak bola terbesar dunia itu resmi bergulir pada Jumat dini hari dengan laga pembuka antara tuan rumah Meksiko melawan Afrika Selatan di Stadion Mexico City. Timnas Meksiko berhasil memenangkan pertandingan dengan skor 2-0.
Sebagai pemegang hak siar nasional Piala Dunia 2026, TVRI memberikan akses kepada masyarakat untuk menikmati seluruh rangkaian pertandingan melalui siaran televisi maupun kegiatan nobar berlisensi yang digelar di berbagai daerah.
Kepala Stasiun TVRI Jawa Tengah, Sanny Damanik, mengatakan Jateng saat ini menjadi provinsi dengan jumlah pendaftar lisensi nobar Piala Dunia terbanyak di Indonesia. Tingginya angka pendaftaran menunjukkan besarnya antusiasme masyarakat terhadap turnamen empat tahunan tersebut.
“Update per 12 Juni 2026 lokasi nobar di Jateng sudah mencapai 496 titik. Kita masih menunggu proses verifikasi. Setelah verifikasi selesai baru diberikan lisensi. Untuk nobar ini memang harus memiliki lisensi resmi dan setiap hari datanya terus kami perbarui,” ujar Sanny saat dihubungi Espos, Jumat malam.
Menurut dia, Kota Semarang menjadi daerah dengan jumlah pendaftar lisensi nobar terbanyak dengan 45 titik. Sementara itu, Kota Solo juga menunjukkan antusiasme tinggi dengan 28 titik nobar yang telah terdaftar.
Sanny menjelaskan kegiatan nobar yang digelar di fasilitas publik seperti pendopo, alun-alun, maupun ruang publik lainnya dapat memperoleh lisensi secara gratis, selama terlebih dahulu mendaftarkan kegiatan tersebut kepada TVRI.
“Nobar ini ada yang bersifat komersial dan nonkomersial. Untuk lokasi di fasilitas umum seperti tingkat kelurahan, pendopo, maupun alun-alun, lisensinya gratis. Kecuali kafe, restoran, dan hotel yang menggelar nobar untuk keperluan komersial,” kata Sanny.
Dia juga mendorong pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Tengah untuk memfasilitasi lokasi nobar Piala Dunia 2026. Saat ini baru sekitar 70 persen instansi pemerintah yang telah mengurus lisensi resmi.
Lebih lanjut, Sanny mengimbau masyarakat maupun instansi yang berencana menggelar nobar pada fase-fase lanjutan seperti babak 16 besar, perempat final, semifinal, hingga final untuk segera mengurus lisensi agar kegiatan dapat berlangsung sesuai ketentuan.
“Yang penting lisensinya diurus terlebih dahulu. Satu lisensi berlaku untuk 104 pertandingan dari 11 Juni sampai 20 Juli 2026. Jadi silakan didaftarkan dulu,” imbuhnya.
Bola Gembira dan Peluang bagi UMK
TVRI mengusung program “Bola Gembira” dalam penyelenggaraan nobar Piala Dunia 2026. Melalui program tersebut, TVRI berharap euforia sepak bola tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat melalui keterlibatan pelaku usaha mikro dan kecil (UMK).
“Tujuan Bola Gembira adalah menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat melalui euforia sepak bola. Kami juga membuka peluang bagi UMK untuk berdagang dan berjualan di lokasi nobar sehingga kegiatan ini diharapkan dapat membangkitkan ekonomi,” ungkap Sanny.
Untuk mengukur dampak ekonomi yang dihasilkan selama pelaksanaan nobar, TVRI menyiapkan sistem pendataan yang terhubung dengan seluruh lokasi nobar berlisensi. Data tersebut akan digunakan untuk memantau keterlibatan UMK serta menghitung potensi perputaran ekonomi selama turnamen berlangsung.
“Kami menyiapkan dashboard untuk mengukur seluruh dampak kegiatan nobar. Data dari setiap lokasi akan dipantau sejak hari pertama, hari kedua, dan seterusnya. Setelah Piala Dunia selesai, kami bisa mengetahui seberapa besar geliat ekonominya,” tandas Sanny.

Leave a Reply