Tradisi Kungkum Malam 1 Suro di Tugu Soeharto Semarang Masih Bertahan

Tradisi Kungkum Malam 1 Suro di Tugu Soeharto Semarang Masih Bertahan
Penampakan orang-orang yang tengah bersiap menjalani ritual kungkum atau berendam di kawasan Tugu Soeharto, Kota Semarang, Selasa (16/6/202). (Daerah/Fitroh Nurikhsan)

Tangjungrimba.com, SEMARANG — Aroma dupa menyeruak di bantaran sungai kawasan Tugu Soeharto, Kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang. Menjelang pergantian hari, satu per satu orang yang sebelumnya duduk bersila di sekitar tugu mulai turun ke sungai untuk menjalani ritual kungkum atau berendam.

Pemandangan semacam itu menjadi tradisi yang hampir selalu hadir setiap malam Satu Suro. Dalam suasana gelap dengan penerangan minim, warga berendam di tempuran atau titik pertemuan aliran Sungai Kaligarang dan Sungai Kreo.

Bagi sebagian masyarakat, kungkum bukan sekadar berendam di air sungai. Ritual tersebut menjadi sarana introspeksi, menenangkan pikiran, hingga memanjatkan doa kepada Tuhan menjelang datangnya Tahun Baru Jawa dan Tahun Baru Islam.

Tradisi itu juga tidak lepas dari cerita yang berkembang turun-temurun mengenai Tugu Soeharto. Kawasan tersebut dipercaya pernah menjadi tempat Presiden ke-2 RI, Soeharto, menjalani tirakat dan kungkum sebelum menapaki perjalanan politiknya hingga menjadi pemimpin Indonesia selama 32 tahun.

Warga Kelurahan Kalipancur, Taufik Nur Sofyan, mengaku telah rutin mengikuti ritual kungkum setiap malam Satu Suro sejak masih kecil. Kebiasaan itu berawal dari pengalamannya melihat banyak orang menjalani ritual serupa di kawasan tersebut.

“Kalau dalam adat Jawa, kita harus tahu tentang kepercayaan-kepercayaan yang berkembang. Saya mendengar cerita dulu Pak Harto pernah kungkum dan bertapa di sini. Setelah itu beliau mendapat kemampuan menjadi pemimpin negeri ini,” ujar Taufik saat ditemui Espos, Selasa (16/6/2026) dini hari.

Menurut Taufik, cerita mengenai perjalanan hidup Soeharto memang menjadi salah satu alasan banyak orang datang ke lokasi tersebut. Namun baginya, esensi kungkum bukan untuk mencari kesaktian atau kekuatan tertentu.

“Kalau berendam sambil fokus berdoa itu rasanya berbeda. Bukan sekadar dingin seperti mandi biasa. Hati lebih tenang dan kepercayaan kepada Allah semakin meningkat,” katanya.

Pria berusia 31 tahun itu mulai menjalani kungkum setelah tengah malam. Ia memanfaatkan momen tersebut untuk berdoa sekaligus menenangkan diri dari berbagai persoalan kehidupan sehari-hari.

Meski mengaku merasakan manfaat dari ritual tersebut, Taufik enggan menceritakan pengalaman pribadinya secara rinci.

“Hasil dari kungkum itu ada. Cuma saya tidak bisa menceritakan secara detail karena itu ranah privasi. Takutnya kalau disampaikan malah dianggap musyrik,” ujarnya.

Menurut dia, orang-orang yang datang menjalani kungkum tidak hanya berasal dari Kota Semarang. Banyak pula warga luar daerah yang mengenal kawasan Tugu Soeharto sebagai salah satu lokasi spiritual yang memiliki nilai historis dan budaya.

Hal senada disampaikan Ahmad Rifin, 50, yang mengaku telah dua kali mengikuti ritual kungkum di lokasi tersebut. Baginya, tujuan utama datang ke Tugu Soeharto adalah berdoa memohon kesehatan, keselamatan, dan kelancaran hidup.

“Tadi kungkumnya tidak lama, sekitar 10 menit. Rasanya enak dan badan jadi segar. Tujuannya paling utama berdoa kepada Tuhan agar hidup diberikan kesehatan dan kelancaran. Yang kedua minta restu kepada leluhur supaya mendapat semacam karomah,” katanya.

Dibangun Guru Spiritual Soeharto

Pemerhati sejarah Kota Semarang, Johanes Christiono, menjelaskan Tugu Soeharto dibangun sekitar tahun 1965. Menurutnya, pembangunan tugu tersebut diprakarsai oleh guru spiritual Soeharto yang dikenal dengan nama Romo Diyat.

Johanes menuturkan lokasi itu kerap dikaitkan dengan perjalanan hidup Soeharto saat masa perjuangan kemerdekaan. Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, Soeharto pernah bersembunyi di kawasan tersebut saat terjadi agresi militer Belanda.

“Jadi sejarahnya ketika agresi Belanda tahun 1945, Soeharto yang saat itu masih menjabat Pangdam IV Diponegoro terselamatkan di sini karena kungkum untuk bersembunyi,” ujarnya.

Meski demikian, Johanes mengaku tidak memiliki banyak catatan sejarah mengenai awal mula tradisi kungkum yang kini berkembang di masyarakat. Menurutnya, praktik tersebut justru semakin ramai setelah keberadaan Tugu Soeharto.

Berdasarkan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, kungkum dilakukan sebagai bentuk tirakat, membersihkan diri, sekaligus menolak bala menjelang pergantian Tahun Baru Jawa.

“Saya masih ingat pada rentang 1970 sampai 2000, sangat banyak orang yang mengikuti tradisi kungkum. Seiring perkembangan zaman, niat orang mengikuti kungkum bermacam-macam, mulai mencari jodoh sampai nomor,” kata Johanes.

Meski zaman terus berubah, tradisi kungkum malam Satu Suro di Tugu Soeharto masih bertahan hingga kini. Bagi sebagian masyarakat Jawa, ritual tersebut bukan sekadar tradisi budaya, melainkan juga ruang untuk merenung, berdoa, dan memulai tahun baru dengan harapan yang lebih baik.

Leave a Reply