Tangjungrimba.com, MADIUN – Kawasan Pahlawan Street Center, Kota Madiun, dipadati ribuan warga, Sabtu (28/8/2026) malam. Mereka menari bersama dalam gelaran Madiun Menari 2026 dengan mengusung tema “Satu Kota, Satu Gerak, Satu Irama”.
Sedikitnya 5.000 warga dari berbagai latar belakang secara serentak membawakan Tari Beksan Parisuko. Gelaran itu sukses menjadi panggung budaya sekaligus ruang ekspresi masyarakat Kota Madiun.
Pelaksana Tugas (Plt.) Wali Kota Madiun F Bagus Panuntun mengatakan Madiun Menari 2026 bukan kegiatan yang digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Madiun. Gelaran tersebut merupakan inisiatif masyarakat dan pelaku seni yang ingin turut berkontribusi dalam membangun Kota Madiun sebagai kota budaya.
“Ini bukan kegiatan Pemkot. Ini kegiatan masyarakat, semua inisiatif masyarakat. Hari ini lebih dari 5.000 masyarakat Kota Madiun bergerak untuk membangun kota ini menjadi salah satu kota budaya,” ujarnya.
Menurut Bagus, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Kota Madiun memiliki kepedulian untuk menjaga sekaligus mengembangkan kebudayaan daerah. Karena itu, pemerintah daerah ke depan perlu memperkuat fasilitasi terhadap berbagai kegiatan kebudayaan yang lahir dari masyarakat.
Bagus mengapresiasi keterlibatan masyarakat dalam Madiun Menari. Dia berharap semakin banyak kegiatan serupa yang lahir dari inisiatif warga sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat langsung dalam pembangunan kota.
“Pemerintah kota ke depan harus memperkuat fasilitasi terkait budaya, salah satunya tari. Malam ini kita membuktikan masyarakat Kota Madiun semuanya bersatu menjaga dan menghidupkan budaya,” katanya.
Menurut Bagus, seni tari ciptaan seniman asli Kota Madiun itu menjadi sarana untuk mengenalkan sekaligus melestarikan budaya lokal, khususnya kepada generasi muda.
Dalam filosofinya, Tari Beksan Parisuko mencerminkan nilai keindahan, kesuburan, rasa syukur kepada Sang Pencipta, kehalusan budi pekerti, kesopanan, serta keselarasan kehidupan manusia dengan alam dan lingkungan.
Melalui Madiun Menari, masyarakat tidak hanya menyaksikan pertunjukan budaya, tetapi ikut menari dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan kesenian daerah. Semangat tersebut diharapkan terus diteruskan melalui sekolah, sanggar seni, komunitas, keluarga, hingga berbagai ruang kreatif lainnya.
“Saya senang dari kegiatan hari ini yang diinisiasi masyarakat. Semuanya ingin ikut terlibat. Harapan besarnya, saya ingin inisiasi kegiatan-kegiatan itu berasal dari masyarakat,” jelasnya.
Soal potensi rekor Muri dengan jumlah penari yang mencapai ribuan, Plt Walikota Madiun itu menegaskan kegiatan ini merupakan inisiatif masyarakat dan Pemkot memilih cara mengapresiasi dengan memfasilitasi gelaran dan mengemasnya dengan meriah.
Dengan demikian, Madiun Menari bukan sekadar tentang ribuan orang yang menari secara serentak dalam satu malam. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi gambaran tentang masyarakat yang bergerak bersama, menghidupkan budaya, sekaligus membangun kebanggaan terhadap Kota Madiun.

“Ini yang punya masyarakat bukan Pemkot madiun, saya lebih mengapresiasi bahwa ini milik masyarakat Kota Madiun, saya lebih mengapresiasi bagaimana gerak masyarakat kota madiun untuk mencintai kotanya, kalau penghargaan gampang,” tambahnya.
Madiun Menari 2026 sekaligus menjadi penanda dimulainya Spectra Night. Ruang terbuka tersebut rencananya digelar rutin setiap bulan sebagai wadah masyarakat dan komunitas untuk berkegiatan secara positif, kreatif, dan edukatif.
Untuk menjaga kenyamanan ruang publik, kawasan Spectra Night tidak diperuntukkan bagi aktivitas berjualan. Pemkot Madiun telah menyiapkan sejumlah lokasi bagi pelaku UMKM dan pedagang, antara lain di Lapangan Gulun, Bundaran Taman, serta sejumlah titik lainnya.
Sementara itu, salah satu penari, Agnes Asri Nurlinuih, mengaku senang bisa turut andil dalam gelaran Madiun Menari 2026 dengan membawakan seni tari asli Kota Madiun itu. Dia berharap, gelaran serupa bisa diadakan setiap bulan guna membangkitkan rasa cinta terhadap seni tari di benak setiap masyarakat, terkhusus Kota Madiun.
“Untuk belajar tari ini ga terlalu sulit, dasar tarinya itu kan mirip-mirip ya. Kalau bisa setiap bulan diadakan kegiatan seperti ini,” kata dia. (NA)

Leave a Reply