Tangjungrimba.com, KARANGANYAR — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang kawasan Gunung Lawu di wilayah Tawangmangu mulai memberikan pukulan bagi sektor pariwisata lokal. Memasuki hari kedelapan kebakaran pada Kamis (22/10/2026), tingkat kunjungan wisatawan ke sejumlah destinasi dilaporkan mulai menyusut.
Founder The Lawu Group, Parmin Sastro Wijono, membeberkan bahwa angka kedatangan pelancong ke destinasi yang dikelola grupnya terkoreksi hingga 20 persen selama musibah kebakaran membara.
“Kalau di The Lawu Group, penurunannya baru sekitar 20 persen. Masih relatif stabil,” ujar Parmin saat ditemui di kawasan Sakura Hills, Tawangmangu, Kamis.
Parmin menilai, dampak penurunan paling nyata menghantam sektor wisata pendakian lantaran seluruh rute pendakian Gunung Lawu ditutup total demi keselamatan. Ia tak menampik potensi dampak domino terhadap bisnis pelesiran di sekitar lereng, mengingat serangkaian karhutla serupa juga melanda pegunungan lain seperti Sindoro, Sumbing, hingga Bromo.
Kemarau kering tanpa guyuran hujan selama hampir lima bulan disinyalir menjadi pemicu utama cepatnya lidah api merembet. Kendati demikian, Parmin menyebut kondisi saat ini relatif lebih terkendali dibanding dua hari sebelumnya berkat aksi tanggap kolaboratif relawan, masyarakat desa hutan, serta karyawan pengelola wisata.
Parmin mengestimasi jarak titik kebakaran di sekitar Pos 1 jalur pendakian berada sekitar tiga kilometer dari objek wisata Sakura Hills dan The Lawu Park. Lokasi terdampak mayoritas merupakan zona hutan rimba dengan kerapatan vegetasi yang agak renggang.
Guna mencegah petaka terulang, Parmin mengingatkan masyarakat agar menghentikan kebiasaan membersihkan semak belukar dengan cara dibakar.
“Kami mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga hutan. Bukan hanya Perhutani atau lembaga masyarakat desa hutan, tetapi masyarakat utamanya karena mereka yang sehari-hari bersentuhan langsung dengan kawasan hutan,” ungkapnya.
Titik Api Menyusut dan Pengeboman Air Dipacu
Dalam kesempatan terpisah, Komandan Kodim (Dandim) 0727/Karanganyar, Letkol Kav Dhanang Prasetyo Kurniawan, mengonfirmasi adanya penurunan signifikan jumlah titik api di wilayah Tawangmangu dan Ngargoyoso pada hari kedelapan penanganan.
Hasil pemantauan udara dari area Sakura Hills mencatat jumlah titik api yang mulanya berjumlah sembilan titik kini telah menyusut tinggal tiga titik.
“Untuk Kecamatan Tawangmangu sendiri awalnya enam titik, sekarang sudah berangsur menurun menjadi dua titik. Kemudian untuk Ngargoyoso yang awalnya tiga titik, berangsur menjadi satu titik,” terang Letkol Dhanang.
Dhanang mengapresiasi kondisi angin pada Kamis yang relatif tenang sehingga mendukung kelancaran operasi pemadaman udara (water bombing).
“Alhamdulillah, hari ini helikopter water bombing melaksanakan penyiraman sebanyak 12 kali. Kalau dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya, kemarin kurang maksimal karena cuaca berkabut dan angin kencang,” terangnya.
Hingga saat ini, estimasi total luas lahan yang hangus dilalap si jago merah diperkirakan telah menyentuh angka 500 hektare.
Dhanang mengakui, tim gabungan TNI, Polri, Basarnas, BPBD, dan relawan masih menghadapi kendala ketersediaan sumber air dan medan ekstrem yang tidak bisa ditembus kendaraan darat. Petugas di lapangan terpaksa berjibaku secara manual memukul api memakai ranting serta menggali parit penyekat menggunakan cangkul dan sabit.
Meskipun kepulan asap masih terlihat dari arah Cafe 2020 MDPL Sakura Hills, Dhanang memastikan posisi kobaran api utama sejauh ini masih berada di kawasan atas dan berada dalam jarak aman dari permukiman warga.

Leave a Reply